TwinWar – Kembar yang tidak selalu rukun.

36602956

Judul: TwinWar

Penulis: Dwipatra

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 296 halaman

ISBN: 978-602-03-7679-0

Rating: ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Sinopsis:

Gara dan Hisa kembar identik. Penampilan kedua cowok itu persis sama. Kerennya pun sama. Tapi minat dan kemampuan? Beda jauh! Gara berotak encer dan kemampuan akademiknya gemilang. Sementara itu, Hisa jago olahraga dan sederet trofi kejuaraan berhasil ia raih. Walaupun bersekolah di SMA berbeda persaingan mereka tak pernah surut.

Dalam keluarga mereka, ada satu aturan yang tidak boleh mereka langgar. “Gara dan Hisa tidak boleh pacaran sebelum lulus SMA dan diterima masuk di perguruan tinggi.” Kalau sampai aturan itu dilanggar, konsekuensi yang akan mereka terima tidak main-main.

Kisah ini bermula ketika Hisa mengetahui ada foto cewek di handphone Gara. Ya, diam-diam Gara memang berpacaran dengan Dinar. Mendapati rahasia Gara, Hisa seolah mendapat senjata ampuh untuk “menghancurkan” saudara kembarnya.

Jadi, siapa bilang saudara kembar nggak bisa perang?


Dalam Bahasa Indonesia, TwinWar bisa diartikan sebagai perang saudara kembar, yang mengarah langsung pada masalah utama cerita di antara Hisa dan Gara.

Mahisa Aryaji dan Hanggara Setiaji adalah kembar identik. Saking identiknya, mereka hanya bisa dibedakan dengan gaya rambut. Tidak ada tanpa lahir apapun yang menjadi pemisah. Kecuali bakat dan perangai mereka.

Mahisa yang disapa Hisa adalah cowok yang mempunyai prestasi gemilang di bidang olahraga. Dia punya segudang trofi dan piala di rumahnya. Selain itu, Hisa pecinta musik metal, cuek, dan bukan tipe penurut.

Sementara Hanggara atau Gara adalah pecinta ilmu sains. Matematika atau fisika bukan hal sulit untuk Gara. Berbalik dengan saudaranya, Gara adalah cowok yang rajin, tekun, dan penurut. Hisa sendiri memandang Gara adalah orang yang membosankan.

Tapi, tidak ada yang tahu bahwa mereka kembar. Hisa dan Gara bersekolah di SMA berbeda. Hisa di SMA Praja (Pramana Jaya), sementara Gara bersekolah di SMA Pakar (Pandu Karya).

Sejak cerita dimulai, masalah sudah muncul di antara Hisa dan Gara. Hisa memanfaatkan titik lemah Gara agar saudaranya itu menggantikannya saat ulangan. Dan Gara tidak bisa menolak. Karena fotonya bersama Dinar yang Hisa simpan, bisa membuatnya menerima hukuman dari orangtua mereka.

Bagi saya, cerita berlatar di Jakarta ini adalah sebuah angin segar di lini teenlit. Walaupun sumber masalahnya di sini adalah hubungan Gara dan Dinar, tapi unsur romancenya sedikit. Tidak ada skinship atau interaksi berlebihan di antara pasangan-pasangan di sini. Penulis fokus pada hubungan Hisa dan Gara.

Saya sendiri berhasil dibuat penasaran sejak awal. Saya sangat-sangat ingin tahu apa yang menyebabkan hubungan dua saudara ini jadi sebegitu buruknya. Tidak mau berfoto bersama, saling berusaha untuk mengalahkan satu sama lain. Dan di sini, penulis pelan-pelan mengungkapkan alasannya.

Berhubung saya juga bukan anak satu-satunya di keluarga, saya paham bagaimana perasaan si Kembar, terutama Gara, kalau dibandingkan dengan saudara kita yang punya prestasi lebih tinggi. Selain itu, Hisa yang marah ke Gara juga bisa dimaklumi. Dari sisi kepribadiannya pun, saya juga bisa memahami. Hisa itu sama banget seperti saya kalau urusan tugas. Santai๐Ÿ˜. Sementara Gara mirip sama beberapa teman saya yang selalu teratur dalam mengerjakan tugas. Satu hal ini membuat saya merasa nyaman dengan tokoh-tokohnya karena mereka bukan sosok yang berkepribadian tanpa cacat.

Di awal, saya tidak suka dengan Hisa. Serius. Saya berpikir, Hisa ini benar-benar kejam sama Gara. Tapi lama-lama, rasa tidak suka saya berkurang seiring perubahan sikap yang Hisa tunjukkan. Untuk Gara sendiri, karakternya tidak banyak berubah. Gara tetap serajin, setekun, dan sepintar saat cerita ini dimulai. Tapi keberanian yang Gara tunjukkan membuat saya salut.

Buku ini buat saya tersentuh. Terutama pada interaksi-interaksi Hisa dan Gara, kecuali pertengkaran mereka. Bagi saya keduanya hanya tidak ingin dikalahkan satu sama lain dan lebih memilih untuk mempertahankan gengsi. Makanya saat mereka mulai ada di kamar yang sama atau diskusi bersama, bagi saya itu sudah perkembangan yang bagus.

Dari segi penulisan, saya nyaman sekali. Percakapannya juga terasa tidak kaku. Sayangnya ada penggunaan kata “tidak” dan “nggak” yang tidak konsisten di dalam dialog tokohnya. Di baris pertama kalimat, misal Hisa menggunakan tidak, tapi selanjutnya dia akan menggunakan nggak. Sementara di halaman 19 terdapat pengetikan “yang” yang diulang. Seharusnya tertulis “yang menanti”, bukan “yang yang menanti”.

Selain Hisa dan Gara, ada beberapa tokoh yang tidak kalah menariknya. Ada Dinar, Ollie, Danu, Johan, sampai Faizal. Dinar, Ollie, Danu, dan Johan di sini adalah teman-teman Hisa dan Gara. Keempatnya punya karakter yang lumayan kuat. Terutama Ollie. Saya suka dengan sikap tidak peduli dan centilnya.

Hanya saja saya kurang puas dengan penyelesaiannya, yang terasa sangat sempurna. Tapi di sisi lain, saya jadi berpikir kalau penulis berusaha menyampaikan kepada pembacanya kalau orang yang berusaha akan mendapatkan kesempatan yang setimpal.

Dengan sudut pandang orang ketiga yang digunakan penulis, saya rasa ceritanya bisa dimengerti dengan baik. Buku ini bukan cerita penuh adegan perkelahian atau apa, tapi tetap sukses buat saya deg-degan. Karena itu saya bisa bilang kalau TwinWar adalah salah satu bacaan terseru saya tahun ini. Sedih, terharu, kesal, senang, semuanya saya rasakan saat membaca buku ini.

Label juara 1 Gramedia Writing Project batch 3 adalah alasan kenapa saya tertarik dengan TwinWar dan saya bersyukur karena buku ini tidak mengecewakan. Jadi bagi kalian, yang cukup penasaran dengan karya Dwipatra sekaligus ingin tahu kisah Hisa-Gara, saya sangat merekomendasikan kalian untuk membaca buku ini. Mungkin bukan cerita dengan kisah super romantis, atau kisah sedih berderai air mata, tapi saya rasa, kalian akan bisa memahami dunia Hisa-Gara dan masalah mereka.

Satu hal yang pasti adalah, kembar bukan berarti sepaham dalam segala hal.


Ini merupakan review kedua saya untuk acara baca santai bersama Kak Dipi (dipiwarawiri.com). Kami sengaja memilih buku-buku juara GWP karena rasa penasaran. Di sini saya membaca buku juara 1, TwinWar karya Dwipatra. Kak Dipi membaca buku juara 3, Sweet Mistake karya Vevina Aisyahra.

Semoga review ini bisa membantu teman-teman yang masih ragu untuk membaca/membeli bukunya, ya!

Thank you.

Sapta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s